Pangkalan Kerinci – Riau | Tuntasnusantara.com
Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD) Pangkalan Kerinci menggelar Ibadah Raya pada Minggu, 20 September 2026, pukul 10.00 WIB. Ibadah yang terbuka untuk umum tersebut mengangkat tema “UNITY – Kesatuan Hati”, dengan Pdm. Beatrix Englin, Q, SP sebagai pembicara.
Ibadah berlangsung dengan pesan utama mengenai pentingnya membangun kehidupan yang sehati, sepikir, saling mengasihi, serta menjaga persatuan di tengah keluarga, jemaat, dan masyarakat.
Pesan tersebut didasarkan antara lain pada Roma 12:16-21, 1 Korintus 1:10-13, 1 Korintus 3:3, 1 Korintus 6:7, serta Kisah Para Rasul 2:42, 46-47.

Dalam penyampaian firman, Pdm. Beatrix menekankan bahwa kesatuan hati merupakan bagian penting dari kehidupan orang percaya dan merupakan kehendak Tuhan bagi umat-Nya. Rasul Paulus dalam 1 Korintus 1:10 menasihati jemaat agar tidak terjadi perpecahan, melainkan tetap erat bersatu dan sehati sepikir.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika kehidupan bersama diwarnai oleh perbedaan karakter, pendapat, latar belakang, maupun kepentingan. Perbedaan, menurut pesan firman yang disampaikan, tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh atau terpecah, tetapi menjadi kesempatan untuk belajar hidup dalam kasih dan saling menghargai.
Kesatuan Dimulai dari Kerendahan Hati
Melalui Roma 12:16-18, jemaat diajak untuk tidak memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tidak menganggap diri paling pandai, serta sedapat mungkin hidup dalam perdamaian dengan semua orang.
Kesatuan membutuhkan kerendahan hati. Setiap orang dipanggil untuk belajar mendengar, memahami, mengampuni, dan tidak menjadikan ego pribadi sebagai sumber perpecahan.
Firman Tuhan juga mengingatkan agar kejahatan tidak dibalas dengan kejahatan.
“Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”
(Roma 12:21, TB)
Pesan ini menjadi dorongan bagi jemaat untuk memilih jalan kasih dan perdamaian ketika menghadapi konflik maupun perlakuan yang tidak menyenangkan.
Jangan Memberi Ruang bagi Perpecahan
Dalam kehidupan jemaat, perpecahan dapat berawal dari hal-hal yang tampak sederhana, seperti iri hati, perselisihan, salah paham, perkataan yang tidak dijaga, maupun keinginan untuk mempertahankan kepentingan pribadi.
1 Korintus 3:3 mengingatkan bahwa iri hati dan perselisihan menunjukkan kehidupan yang masih dipengaruhi oleh manusia duniawi.
Karena itu, jemaat diajak untuk tidak memelihara kepahitan, tetapi menyelesaikan persoalan dengan kasih dan mengutamakan kesatuan tubuh Kristus.
Kesatuan juga tidak berarti setiap orang harus memiliki pendapat yang sama dalam segala hal. Namun, di tengah perbedaan tersebut, umat Tuhan dipanggil untuk memiliki satu tujuan di dalam Kristus, yakni hidup bagi kemuliaan Tuhan.
Gereja yang Bersatu Menjadi Kesaksian
Kisah Para Rasul 2:42, 46-47 menjadi gambaran kehidupan jemaat mula-mula yang tekun dalam pengajaran rasul-rasul, persekutuan, pemecahan roti, dan doa. Mereka berkumpul dengan sehati serta hidup dalam ketulusan hati.
Kehidupan jemaat tersebut menjadi kesaksian yang nyata. Alkitab mencatat bahwa mereka disukai semua orang dan Tuhan menambahkan jumlah orang yang diselamatkan setiap hari.
Hal ini mengingatkan bahwa persatuan bukan hanya berkaitan dengan hubungan internal jemaat, tetapi juga dengan kesaksian gereja di tengah masyarakat.
Ketika keluarga hidup dalam kasih, gereja hidup dalam persatuan, dan orang percaya saling membangun, nama Tuhan dapat dimuliakan melalui kehidupan mereka.
Lima Alasan untuk Terus Membangun Kesatuan
Dalam pesan ibadah tersebut, Beatrix menyampaikan pentingnya kesatuan hati dapat dirangkum dalam lima hal utama:
Pertama, kesatuan merupakan perintah Tuhan. Orang percaya dipanggil untuk hidup sehati dan tidak membiarkan perpecahan menguasai kehidupan bersama.
Kedua, melalui kehidupan yang bersatu, nama Tuhan dimuliakan. Kesatuan dan kasih menjadi kesaksian bahwa Kristus bekerja dalam kehidupan umat-Nya.
Ketiga, umat Tuhan tidak boleh memberi ruang bagi perpecahan. Iri hati, kepahitan, ego, dan perselisihan harus diselesaikan dalam kasih sehingga tidak berkembang menjadi perpecahan.
Keempat, keluarga dan gereja menjadi kuat ketika hidup dalam kesatuan. Persatuan membuat setiap orang dapat saling menopang dan menjalankan panggilan Tuhan bersama-sama.
Kelima, umat Tuhan belajar menantikan dan menerima janji Allah dalam kehidupan bersama. Kesatuan dalam doa, persekutuan, dan pelayanan menjadi bagian dari kehidupan jemaat yang berkenan kepada Tuhan.
“Satu Hati, Satu Kasih, Satu Tujuan”
Melalui Ibadah Raya bertema “UNITY – Kesatuan Hati”, jemaat GKKD Pangkalan Kerinci kembali diingatkan bahwa gereja bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi keluarga Allah yang dipanggil untuk hidup dalam kasih dan persatuan.
Kesatuan tidak dibangun dengan menghilangkan perbedaan, tetapi dengan menempatkan Kristus sebagai pusat kehidupan bersama.
Ketika setiap orang bersedia merendahkan hati, mengampuni, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, serta memilih hidup dalam perdamaian, maka kesatuan dapat terus dibangun dan dipelihara.
Pesan utama yang dibawa dalam ibadah tersebut sederhana namun kuat:
“Jangan biarkan perbedaan memecahkan persaudaraan. Jangan biarkan ego menghancurkan kesatuan. Mari hidup sehati, saling mengasihi, dan bersama-sama memuliakan Kristus.”
UNITY – KESATUAN HATI.
Satu hati, satu kasih, satu tujuan, satu di dalam Kristus.
Dari Pdm. Beatrix Englin, Q, SP
Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD) Pangkalan Kerinci.
Jurnalis : Junius Zalukhu
Editor : Redaksi







