Medan – Tuntasnusantara.com
Keluarga WLG mempertanyakan penyebab kematian perempuan tersebut setelah menemukan sejumlah luka lebam pada tubuhnya saat melihat jenazah di Rumah Sakit Bhayangkara Medan.Kamis (6/8/2026)
WLG ditemukan meninggal dunia di kamar mandi sebuah rumah di Kompleks Bumi Asri, Kelurahan Cinta Damai, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan, Sumatera Utara, Minggu (2/8/2026).
Kepolisian sebelumnya menyampaikan dugaan bahwa WLG mengakhiri hidup menggunakan senjata api jenis revolver milik Bripka IH, suaminya yang disebut telah bercerai dengannya.
Namun, ayah WLG, Sanalui Gowasa, menilai kematian putrinya tidak wajar karena menemukan dugaan bekas cengkeraman pada leher, lebam di sekitar mata, serta warna kebiruan pada tubuh korban.
Sanalui juga mengaku tidak melihat luka tembak seperti informasi yang sebelumnya diterima keluarga.
Ayah curiga putrinya mengalami kekerasan
Sanalui mengatakan kondisi jenazah WLG menimbulkan kecurigaan bahwa putrinya mungkin mengalami penganiayaan sebelum meninggal dunia.
Kecurigaan itu muncul setelah keluarga mendapat kesempatan melihat jenazah di Rumah Sakit Bhayangkara Medan.
“Tidak ada itu bekas tembakan seperti apa yang diberitakan selama ini, bahwa anak itu bunuh diri. Merampas dengan pakai pistol suami Brigadir IH, itu tidak benar,” ucap Sanalui Gowasa saat ditemui, Rabu (5/8/2026).
Sanalui mengaku telah meminta penjelasan mengenai hasil autopsi, tetapi petugas memintanya menunggu proses penyelidikan kepolisian.
“Itu sudah saya tanya. Tapi, tunggulah, sabar, sedang dilidik, hasilnya lagi diperiksa sama orang ini,” ungkapnya.
Keluarga berharap hasil autopsi dapat menjelaskan penyebab kematian WLG, termasuk asal luka lebam yang ditemukan pada wajah dan bagian tubuh lainnya.
— Keluarga sebut WLG dan Bripka IH belum resmi bercerai —
Sanalui juga membantah keterangan bahwa WLG dan Bripka IH telah resmi bercerai.
Menurut dia, keluarga tidak pernah menerima dokumen perceraian maupun informasi mengenai adanya putusan pengadilan yang mengakhiri pernikahan keduanya.
“Enggak ada cerai. Sampai sekarang ini enggak ada cerai, cuma pisah ranjang,” lanjutnya.
Keterangan tersebut berbeda dengan pernyataan Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak yang menyebut WLG dan Bripka IH telah resmi bercerai sejak 2021.
Keluarga menyatakan WLG kembali tinggal bersama Bripka IH setelah dijemput oleh ibu mertuanya sekitar dua bulan sebelum meninggal dunia.
“Anak saya ini pulang dijemput sama ibu mertuanya. Itulah yang saya dengar sama anak-anak. Dijemput dari sana dan dibawa di sini untuk disatukan kembali untuk rujuk. Bukan anakku yang datang sendiri untuk minta rujuk. Orangtuanya yang jemput,” katanya.
Sebelum kembali ke Medan, WLG diketahui tinggal bersama kedua anaknya di Jakarta.
— Keluarga sempat menerima kabar korban sakit jantung —
Sanalui pertama kali mengetahui kabar kematian WLG dari anak keduanya pada Minggu sore.
“Pak, Kakak telah meninggalkan kita,” ucap Sanalui menirukan perkataan anak keduanya.
Keluarga awalnya menerima informasi bahwa WLG meninggal setelah menjalani perawatan akibat sakit jantung di Rumah Sakit Bhayangkara Medan selama sekitar enam hari.
“Meninggal selama ini dia berobat di Rumah Sakit Bhayangkara, sakit jantung. Udah diopname selama kurang lebih enam hari di sana. Sekarang Kakak udah meninggal. Kakak udah kurang lebih dua bulan di Medan. Tinggal di rumah sama si IH,” ungkapnya.
Sanalui bersama anggota keluarga kemudian mendatangi Rumah Sakit Bhayangkara Medan.
Namun, petugas rumah sakit disebut membantah adanya pasien sakit jantung dengan identitas WLG yang menjalani rawat inap dan meninggal di tempat tersebut.
“Pak, kalau yang sakit jantung, pasien yang sakit jantung dan opname di sini tidak ada. Tidak ada pasien yang sakit jantung diopname di sini meninggal di sini, tidak ada Pak,” ujar Sanalui menirukan perkataan petugas rumah sakit.
Petugas kemudian menginformasikan bahwa WLG dibawa ke rumah sakit setelah ditemukan meninggal akibat luka tembak.
Jenazah disebut dibawa oleh personel Polsek Medan Helvetia sekitar pukul 18.00 WIB.
Keluarga mengaku dibatasi saat melihat jenazah
Sanalui mengatakan keluarga awalnya tidak diizinkan langsung melihat jenazah WLG dan diminta memperoleh izin dari Polsek Medan Helvetia.
Keluarga akhirnya mendapat kesempatan melihat jenazah pada Senin (3/8/2026) sekitar pukul 09.00 WIB setelah meminta bantuan kerabat.
Namun, keluarga mengaku tidak diperbolehkan menyentuh maupun mengambil foto jenazah.
“Cuma tidak diperbolehkan untuk difoto dan tidak diperbolehkan untuk dipegang. Kondisi mayat udah ditutup semua. Hanya bagian mukanya yang terlihat ada luka lebam dan matanya biru dan tubuh ada membiru,” pungkasnya.
Kondisi tersebut membuat keluarga semakin mempertanyakan dugaan awal bahwa WLG meninggal karena menembak dirinya sendiri.
— Ibu korban ungkap luka di mata dan leher —
Ibu WLG, Yestin Laia, juga meminta kepolisian mengusut kematian anaknya secara transparan.
Yestin mengatakan terdapat luka lebam di kedua mata, leher, dan bagian bawah dagu WLG.
“Putriku, anakku sayang, tolong Pak Kapolda Sumut, Kapolri dan DPR dan Presiden dan Wakil Presiden, apa yang terjadi dengan anakku,” tangis Yestin.
Ia mengaku tidak mengetahui apakah putrinya mengakhiri hidup atau menjadi korban pembunuhan.
“Apa yang terjadi dengan anakku apakah bunuh diri atau dibunuh. Bantulah kami Kapolri, Kapoldasu dan Presiden dan Wakil Presiden. Anak kesayanganku yang tak banyak cakap,” katanya.
Yestin juga menyebut keluarga belum memperoleh hasil autopsi setelah jenazah WLG diperiksa.
“Anakku luka lebam di kedua matanya, di lehernya dan bekas suntikan di bawah dagunya. Sampai sekarang tidak ada hasil autopsi, kenapa bunuh diri tetapi tidak ada hasil sama kami,” pungkasnya.
— Ibu sempat khawatir WLG kembali bertemu Bripka IH —
Yestin mengaku sempat melarang WLG kembali menemui Bripka IH karena putrinya disebut pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga.
Namun, kekhawatiran tersebut akhirnya dikesampingkan demi anak-anak WLG.
“Mama saya jemput ya demi anak-anak dulu ya, terus saya bilang dipikirkan dulu ya, dan terakhir mertuanya datang menjemputnya. Ku relakan demi cucu, aku berat sebenarnya karena ada takutku, karena anakku ini jadi korban KDRT, dulu dia cerita, sebelum rujuk ini, sampai ku buang rasa takut ini,” katanya.
Yestin menegaskan WLG tidak datang sendiri untuk meminta rujuk, tetapi dijemput oleh ibu mertuanya dari Jakarta.
Ia juga mempertanyakan keterangan bahwa putrinya dan Bripka IH telah resmi bercerai karena keluarga tidak pernah mengetahui proses tersebut.
“Kami tidak pernah didatangi dan ditanya, tidak pernah anakku dipanggil untuk cerai dan tidak pernah ditelepon. Kalau memang cerai kenapa anakku kau jemput IH, kenapa minta kembali rujuk lagi,” lanjutnya.
— Polisi sebut korban berada di kamar bersama anak —
Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak sebelumnya mengatakan terdapat enam orang di dalam rumah saat kejadian.
Mereka terdiri dari WLG, Bripka IH, dua anak, seorang pengasuh, dan ibu Bripka IH.
Menurut polisi, WLG, Bripka IH, serta anak pertama berinisial M berada di kamar lantai dua sebelum kejadian.
Bripka IH kemudian disebut meninggalkan WLG bersama anak pertama mereka di dalam kamar.
Polisi menduga WLG masuk ke kamar mandi dengan membawa revolver milik Bripka IH yang sebelumnya berada di dalam tas.
“Motif bunuh diri ini pada saat ditinggalkan di kamar tersebut, faktanya bahwa korban berada di dalam kamar mandi dengan mengambil senjata api jenis revolver milik Bripka IH,” ucap Calvijn saat ditemui, Selasa (4/8/2026).
Kepolisian menyatakan masih mendalami persoalan pribadi dan keluarga yang berkaitan dengan kematian WLG.
“Hanya itu yang bisa saya sampaikan, mudah-mudahan, proses penyidikan segera selesai dengan profesional,” tuturnya.
— Polisi dalami CCTV dan keterangan saksi —
Calvijn mengatakan WLG bersama kedua anaknya telah tinggal di rumah Bripka IH selama sekitar dua bulan.
Polisi juga telah memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV di sekitar rumah tersebut.
“Tahun 2021, korban dan saksi Bripka IH telah bercerai resmi. Di tahun 2026, tepatnya dua bulan yang lalu, korban bersama kedua anaknya datang ke Medan,” ungkapnya.
Keterangan anak korban serta rekaman CCTV juga digunakan polisi untuk mendalami aktivitas keluarga selama tinggal di rumah tersebut.
“Berdasarkan dari keterangan saksi anaknya, mereka sering bepergian ke mal dan lain-lain. Serta rekaman Closed-Circuit Television (CCTV) telah didalami ada beberapa kegiatan yang berada di dalam rumah yang juga ikut menyertakan peran korban dalam melayani tamu dan lain-lainnya,” kata Calvijn.
Polisi belum mengumumkan hasil autopsi maupun kesimpulan akhir penyebab kematian WLG.
Perbedaan keterangan mengenai status pernikahan, kondisi jenazah, serta kronologi sebelum kematian masih menjadi bagian yang diminta keluarga untuk diusut secara menyeluruh.
(Timred)







