Aceh Timur / tuntasnusantara.com – Polemik dugaan keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di Kecamatan Indra Makmur, Kabupaten Aceh Timur, terus menuai sorotan publik. Ketua DPRK Aceh Timur, Musaitir, SE, turut angkat bicara menyikapi penghentian operasional sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Blang Nisam.
Kepada awak media, Musaitir menyampaikan apresiasi kepada Badan Gizi Nasional (BGN) atas langkah penghentian sementara operasional SPPG Blang Nisam. Namun demikian, ia berharap BGN Regional Aceh dapat segera menuntaskan persoalan tersebut secara objektif agar tidak menimbulkan kerugian bagi pihak mana pun.
Musaitir menegaskan bahwa tujuan utama Program Makan Bergizi Gratis adalah meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak serta ibu hamil dan menyusui, dalam rangka menekan angka stunting dan kekurangan gizi kronis. Program ini juga dinilai berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia serta membantu meringankan beban ekonomi masyarakat, terutama pasca bencana banjir yang melanda wilayah Aceh Timur.
Ia menyoroti dampak serius dari penghentian operasional sementara tersebut, yang menyebabkan sebanyak 2.805 penerima manfaat MBG tidak mendapatkan layanan, serta puluhan karyawan SPPG Blang Nisam terpaksa menganggur. Menurutnya, kondisi ini membutuhkan solusi cepat dan tepat.
Lebih lanjut, Musaitir mengingatkan agar keputusan penghentian operasional tidak dilakukan secara terburu-buru tanpa didukung bukti yang kuat, seperti hasil diagnosa resmi dari dokter spesialis serta hasil pemeriksaan langsung ke lokasi SPPG.
“Hal itu penting dilakukan sebagai bukti awal untuk memastikan apakah dugaan keracunan benar disebabkan oleh makanan MBG dari SPPG Blang Nisam,” ujarnya. Ia juga menyoroti waktu korban dibawa ke puskesmas sekitar pukul 16.00 WIB, saat sebagian besar siswa telah kembali ke rumah masing-masing.
Musaitir berharap keputusan penghentian sementara operasional SPPG Blang Nisam dapat ditinjau kembali secara cermat. Ia menilai perlu ada pertimbangan matang mengingat dari 2.805 orang yang mengonsumsi makanan MBG, hanya 18 orang yang mengalami gejala keracunan, itupun masih dalam status dugaan.
Sementara itu, tokoh pemuda Desa Blang Nisam, Syahril, turut menyayangkan penghentian sementara operasional SPPG tersebut. Menurutnya, SPPG Blang Nisam tidak hanya berperan dalam penyaluran MBG, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi warga desa yang bekerja di sana.
Sebagai tokoh pemuda, Syahril berharap agar SPPG Blang Nisam dapat kembali beroperasi seperti sediakala demi keberlangsungan program MBG dan kesejahteraan masyarakat setempat.
Haris Nduru







