SIBOLGA – TAPTENG – Tuntasnusantara.com
Operasi pencarian dan pertolongan (Search and Rescue/SAR) terhadap korban bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), dan Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) memasuki hari ketiga. Hingga perkembangan terakhir, puluhan korban masih dinyatakan hilang dan sejumlah wilayah belum dapat diakses oleh tim SAR gabungan.
Bencana banjir melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, antara lain Badiri, Pinangsori, Lumut, Sarudik, Tukka, Pandan, Tapian Nauli, dan Kolang. Selain banjir, tanah longsor juga terjadi di tujuh titik lokasi di wilayah Tapteng, yakni Badiri, Sibabangun, Lumut (dua titik), Sarudik, dan Tapian Nauli (dua titik).
Sementara itu di Kabupaten Tapanuli Selatan, bencana banjir bandang disertai longsor menerjang wilayah Aek Ngadol, Hutagodang, Garoga, Batuhoring, Hapesong Baru, hingga Batang Toru.
Ribuan KK Terdampak, Korban Jiwa Terus Bertambah
Berdasarkan data sementara, jumlah warga terdampak di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga mencapai 2.302 Kepala Keluarga (KK). Dari jumlah tersebut, tercatat 142 orang selamat, 1.023 orang berhasil dievakuasi, 65 orang meninggal dunia, serta 84 orang masih dalam pencarian oleh tim SAR gabungan.
Sedangkan di Kabupaten Tapanuli Selatan, tercatat 23 orang terdampak, dengan 7 orang meninggal dunia dan 16 orang masih dinyatakan hilang.
Pembagian SRU dan Pencarian Intensif
Operasi SAR dipusatkan melalui Posko Terpadu Tapanuli Tengah. Tim Mobile yang dipimpin Capt. dan Bayu langsung melakukan koordinasi dengan unsur pemerintah daerah dan pihak terkait. Dalam rapat koordinasi tersebut dilakukan pembagian Search and Rescue Unit (SRU) ke beberapa sektor pencarian.
Tim 1 difokuskan melakukan pencarian di wilayah Hutanabolon, Kabupaten Tapanuli Tengah, sementara Tim 2 menyisir daerah Parombunan, Kota Sibolga. Tim lainnya disiagakan di Posko SAR KN Nakula, Posko Terpadu Sibolga, dan Posko Terpadu Tapteng untuk mendukung operasi lapangan dan koordinasi.
Personel Kantor SAR Nias juga telah tiba di Pelabuhan ASP Sibolga dan langsung bergabung dalam operasi SAR. Pemantauan udara menggunakan drone dilakukan di wilayah Tukka dan Hutanabolon guna mempercepat pencarian korban yang diduga tertimbun longsor.
Akses Terbatas dan Infrastruktur Rusak
Sejumlah wilayah hingga kini masih belum dapat dijangkau oleh tim SAR akibat kerusakan parah pada infrastruktur. Beberapa akses vital yang terputus di antaranya Jalan Lintas Kabupaten Aek Tolang, Jembatan Pandan Carita, dan Jembatan Anggoli yang merupakan jalur lintas nasional. Selain itu, sejumlah fasilitas umum seperti sekolah di wilayah Aek Kolang, kantor camat, serta bangunan pelayanan publik lainnya dilaporkan rusak berat.
Meski demikian, beberapa wilayah yang sebelumnya terendam banjir kini mulai dapat dilalui, seperti Sibuluan Raya, Kota Sibolga, Sarudik, Pandan, AMD, dan kawasan pesantren.
Lokasi Pengungsian dan Sarana Pendukung
Warga terdampak saat ini mengungsi di sejumlah titik aman. Di Kabupaten Tapanuli Tengah, pengungsian terpusat di GOR Pandan. Di Kota Sibolga, pengungsi ditampung di SMP Negeri 5 Parombunan dan Gedung Nasional. Sementara di Tapanuli Selatan, pengungsian tersebar di Bhayangkara, titik-titik pengungsian desa, tenda posko darurat, Aula Bank Indonesia, Masjid Istiqomah, Aula HKBP Sibolga Hutajulu, hingga sejumlah masjid dan sekolah.
Kendala dan Unsur SAR Gabungan
Tim SAR gabungan yang terdiri dari Pos SAR Sibolga, ABK KN Nakula, Kansar Nias, Pos SAR Simeulue, BPBD, TNI-Polri, Polairud, KP Antareja, dan unsur Mabes Airud menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Kendala tersebut meliputi padamnya listrik, keterbatasan jaringan komunikasi, wilayah yang masih terisolasi, cuaca ekstrem dengan potensi longsor dan banjir susulan, jalur darat yang terputus, serta lumpur tebal dan sampah sisa banjir.
Untuk mendukung operasi, berbagai alat utama dan peralatan SAR (Alut dan Palsar) dikerahkan, termasuk Rescue Car I dan II, sekoci KN Nakula, LCR dengan mopel 30 PK, peralatan SAR air, peralatan mountaineering, peralatan medis, alat komunikasi, drone, alat pelindung diri (APD), serta kantong jenazah.
Operasi SAR terus dilanjutkan dengan fokus pada pencarian korban yang masih hilang dan pembukaan akses wilayah terdampak.
(Mendrofa)







