Padang – Tuntasnusantara.com
Hari Selasa dan Rabu, (17 & 18/2/26) kemudian berlanjut pada hari Rabu berikutnya (25/2/26) dan Jumat (27/2/26), Dewan Pengurus Pusat Perkumpulan Marga Gulo Indonesia (DPP Permagi) menyerahkan paket bantuan kepada korban banjir dan tanah longsor di Sibolga, Tapanuli Tengah (Tapteng), dan Medan, Provinsi Sumatera Utara. Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian dan komitmen organisasi Permagi terkait peristiwa bencana alam dahsyat yang terjadi pada akhir November 2025 silam, yang menimpa tiga provinsi di Pulau Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Secara khusus, bantuan DPP Permagi kali ini diberikan kepada komunitas keluarga marga Gulo, termasuk saudara-saudara perempuan dan kemenakan mereka yang bermukim di Sibolga, Tapteng, dan Medan, tiga di antara kawasan yang cukup parah tertimpa bencana di Sumatera Utara. Teridentifikasi sebanyak 49 keluarga komunitas marga Gulo di sana, ikut terdampak.
Sebagai ormas yang relatif baru, Permagi berupaya senantiasa mencari saudara-saudara mereka sesama marga Gulo. baik yang berdomisili di kampung halaman Pulau Nias, maupun di perantauan, kemudian menghimpunnya ke dalam sebuah wadah organisasi. Selama kurun waktu lima tahun belakangan sejak didirikan, cukup banyak komunitas marga Gulo yang bergabung ke dalam Permagi, mulai dari tingkat nasional (DPP), provinsi (DPW), kabupaten/kota (DPC), hingga kecamatan (PAC).
Respons cepat DPP Permagi untuk para korban, yaitu para penyintas bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera berlangsung saat memasuki masa tanggap darurat. Beberapa hari pascabencana, tepatnya tanggal 3 Desember 2025, pengurus DPP di Jakarta membentuk sebuah kepanitiaan, lengkap dengan surat penugasan yang ditandatangani oleh Ketua Umum Irfan Sekhiwoloo Gulo, S.Th dan Sekretaris Januar Gulo.
Panitia diketuai oleh Hasatulö Gulo dari Departemen Sosial DPP Permagi. Ia ditugaskan bersama sebuah tim terdiri dari Asarudi Gulo, Daud T. Gulo, dr. Mesati M. Gulo FIHFAA, Novita Gulo, Tri Natalis Gulo, Nitema Gulo, dan Juliarman Gulo. Agar lebih solid, beberapa nama dari unsur Dewan Panasihat seperti Dr. Paul F. Gulo, Dr. Rahmat Syukur Gulo, dan penulis, juga diikutsertakan dalam kepanitiaan. Termasuk pula dari unsur Dewan Pakar, yaitu Dr. Nimerodi Gulo dan Adv. Paustinus Gulo, S.H.
Sejak dibentuk, panitia rutin melaksanakan rapat secara online menggunakan zoom. Hal itu sebagai konsekuensi tempat berdomisili panitia yang tidak terkonsentrasi pada satu wilayah, melainkan terpisah-pisah dan tersebar di berbagai kota seperti Bekasi, Depok, Gunungsitoli, Jakarta, Malang, Medan, Padang, Pati, dan lain-lain.
Adakalanya pelaksanaan rapat dihadiri pula oleh pengurus DPP dan lainnya, di antaranya Anemala Gulo, Jemmy Gulo, Yasiduhu Gulo, Relius Eko Gulo, dan Ali Gulo. Agenda rapat membincangkan dan mendiskusikan berbagai hal, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan program seperti anggaran, penetapan lokasi, pendataan korban, teknis penyerahan, dan lain-lain. Adapun pembiayaan bantuan, bersumber dari penggalangan donasi internal Permagi. Panitia menggunakan waktu dua setengah bulan bekerja, sejak awal dibentuk hingga bantuan terkumpul dan semuanya siap untuk disalurkan.
Mengingat lokasi masyarakat terdampak difokuskan pada Provinsi Sumatera Utara maka proses penyerahan bantuan oleh DPP dilakukan melalui kerja sama dengan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Permagi Sumut. Alasannya, DPW Sumut lebih mengenal secara detail situasi dan kondisi di lokasi bencana karena berada pada provinsi yang sama. Kemudian jarak dari Medan ke lokasi bencana pun lebih dekat bila dibandingkan dengan jarak dari Jakarta.
Bagi DPW Sumut, kerja sama tersebut diterima sebagai sebuah kepercayaan sekaligus kehormatan. Untuk itu dengan penuh tanggung jawab dan antusias segera bertemu langsung dengan korban terdampak banjir dan tanah longsor sesama marga Gulo di lokasi bencana, maka pada hari Senin pagi (16/2/26), lima pengurus inti DPW Sumut berangkat ke Sibolga dan Tapteng. Rombogan dipimpin oleh Ketua DPW Ir. Nitema Gulo, M.Si., didampingi Wakil Ketua Onekhesi Gulo; Sekretaris Hamuni Gulo, A. Md.; Bendahara Ferius Gulo; dan Penasihat Semi Gulo.
Kunjungan tim DPW Sumut ke Sibolga dan Tapteng, selain untuk menyerahkan bantuan kepada penyintas bencana sekaligus membentuk Dewan Pengurus Cabang (DPC) Permagi Kabupaten Tepteng. Sejauh ini, DPW Permagi Sumut sudah berhasil membentuk 2 DPC dan 13 APC. Jumlah DPC akan segera bertambah menjadi 3 apabila DPC Tapteng sudah berdiri. Dua DPC yang telah terbentuk lebih dulu, yaitu DPC Permagi Kota Medan dan DPC Permagi Kabupaten Deli Serdang. Jumlah ini belum termasuk kepengurusan Permagi yang berada di Kepulauan Nias.
Bertolak dari Medan dengan kendaraan pribadi menempuh jarak ratusan kilo meter mengambil rute yang cukup panjang via Balige dan Barus untuk menghindari longsor di berbagai ruas jalan yang dilewati, rombongan sampai di Sibolga pada Senin malam. Besoknya Selasa, 17 Februari 2026, rombongan meneruskan perjalanan ke Tapteng.
Di Tapteng mereka sudah ditunggu oleh dua pengurus DPP Permagi dan DPW Sumut yang berdomisili di sana, yaitu bung Famoni Gulo, S.H., M.Pd., C.Pl., yang merupakaan anggota DPRD Tapteng periode 2025-2030, dan Adv. Three One Gulo, S.H., M.H. Tim ini kemudian bersama-sama menyerahkan bantuan berupa paket sembako kepada para penyintas yang dipusatkan di Kampus STT Siarnauli, Pandan. Pada hari berikutnya, Rabu,18 Februari, penyerahan bantuan dilanjutkan dengan cara diantar langsung ke rumah penyintas, door to door, sesuai nama-nama yang telah disiapkan panitia.
Seminggu setelah kembali dari Sibolga dan Tapteng, Tim DPW Permagi Sumut terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara, kembali melanjutkan penyerahkan bantuan. Kali ini bantuan diberikan dalam bentuk uang tunai kepada dua keluarga terdampak bencana banjir dan tanah longsor yang berdomisili di Medan, yaitu satu untuk keluarga marga Gulo dan satu lagi keluarga marga Ndraha kemenakan dari marga Gulo. Masing-masing keluarga tersebut menetap di Samaeri Simalingkar B dan Helvetia.
Dalam penyaluran bantuan ini, tim mendahulukan mengantar ke tempat yang lebih jauh di Sibolga dan Tapteng dengan pertimbangan bahwa jumlah masyarakat terdampak di sana jauh lebih banyak, ditambah pula dengan program pembentukan DPC Permagi Kabupaten Tapanuli Tengah. Baru kemudian menyusul di Kota Medan.
Meski mayoritas penyintas bencana yang berdomisili pada tiga kawasan tersebut belum bergabung dengan Permagi, mereka tetap mendapat prioritas. Bencana yang menimpa telah menggugah hati dan sanubari pengurus beserta anggota Permagi yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia terhadap penderitaan yang dialami oleh saudara-saudara mereka sesama marga Gulo. Motto Permagi: ”Kucari saudaraku,” tidak hanya sekadar semboyan belaka, tapi betul-betul dapat diimplementasikan dalam realitas kehidupan.
Bukanlah besar atau kecilnya nominal bantuan yang menjadi ukuran, melainkan perhatian, empati, kepedulian, dan keikhlasan untuk meringankan beban sesama. Nilai-nilai kebaikan disertai aksi nyata yang senantiasa disemai dan ditumbuh kembangkan di dalam Permagi, dapat menjadikan organisasi ini sebagai solusi alternatif pada masa kini dan yang akan datang.
Dengan serah terima bantuan tersebut maka berakhir pula tugas yang diamanahkan oleh DPP Permagi kepada panitia. Atas inisiatif, dukungan, dan kerja sama berbagai pihak, sebuah program pengabdian terlaksana dengan baik.
Sumber (Penulis) Anatona Gulo
Jurnalis MRZ







